Monday, June 7, 2010

Kasih Sepanjang Masa (1)

I. Sekilas Perjumpaam
Tahun 2004...

Suatu Jumat di bulan September. Perkuliahan untuk proogram doktor ilmu-ilmu sosial Universitad P baru akan di mulai, artinya sore ini Dhyva harus terbang ke Bandung, karena pagi masih harus melakukan meeting dengan supplier. Dhyva memasuki waiting room bandara didampingi Mas Putu, fuiii kalau tidak terlalu asyiek ngobrol di Ritz Carlton tentunya dia tidak akan telat seperti ini. Noviana sudah berkali-kali memberikan signal sms . Daerah Kuningan kalau hari Jumat siang biasanya kena macet. Dhyva mendapatkan seat 1, disebelahnya duduk seorang pria berambut cepak, mungkin dari Kepolisian atau ABRI. Dhyva menuju seatnya saat mau m enduduki seatnya, ia menoleh ke seat nomor 2 F, Dhyva mewngerutkan keningnya. Ia merasa sangat mengenal sosok itu, tapi dimana?. Sosok itu sangat rapi dan saat mereka bertatapan Dhyva bisa melihat dibalik kacamatanya, mata itu bangus banget, ada sinar kelembutan, tapi sekilas ada kesedihan dan kesepian. Dhyva menoleh lagi, pria itu tersenyum, senyum itu sangat mengingatkannya pada suatu sosok. Apakah dia?, senyum yang persuasive banget. Gilaaa....jantung Dhyva serasa jatuh...ampun....mana pernaha da seorang pria bisa membuatnya deg deg deg an tak karuan. Dan ini pertama kali dalam hidupnya setelah berpisah dua puluh tahun dengan seseorang , jantungnya berdegup kencang.
Dhyva merasa pernah mengenal sosok itu, tapi dimana?, simpul-simpil syaraf untuk menuju ke otaknya sera tertutup..., capek untuk mengingat masa lalu. Dhyva duduk dengan tenang di sebelah pria berambut cepak. Dari dandannya terlihat pria itu memiliki pangkat atau jabatan tinggi, gila meck..!, sepatunya hermes booo...suit..suit...parfumnya juga, bajunya....heemmmmm...pria ini punya selesa luar biasa. Pria itu berbalik ke arah Dhyva, mungkin ia tahu kalau Dhyva sedang menilainya. Pria berambut cepak itu tersenyum. Dhyva balas tersenyum, wajah pria itu macho.
Dhyva memejamkan matanya, Pada saat pesawat take off tangan pria itu menyentuh lengannya. Dhyva membuka matanya dan melirik si rambut cepak. Wajahnyanya halus dan terlihat tenang, Jakata -Bandung hanya 30 menit, tapi pria itumemanfaatkan waktunya untuk beristirahat.
Dhyva memejamkan matanya, mencoba meditasi un utk memulihkan seluruh energinya untuk menghadapi perkuliahan sore ini, mudah-mudahan tidak terlambat, mengingat dari bandara menuju Dipati Ukur lumayan macet dimana-mana.
Pesawat landing dengan sempurna. Setengah jam di pesawat lumayan bisa memulihkan energinya. Pesawat berhenti pada parking yang telah ditentukan. Seluruh penumpang mengambil sikap berdiri, meskipun pintu pesawat belum dibuka oleh pramugari.
Pria itu berdiri dan dengan sopannya ia memberikan waktu unutk Dhyva mengambilk posisi berdiri.
" Terimakasih.", ucap Dhyva sambil tersenyum. Pria itu membalas senyumnya. Pria itu tersenyum, Dhyva menoleh ke arah seat 2 F. pria bermata lembut di balik kacamatanya masih duduk disana, saat Dhyva melangkah ke arah pintu, pria itu beru berdiri dan alamakkk...ia memberikan senyum untuknya. Hmmm...senyum itu begitu memikat.
Dhyva melangkah menuruni tangga pesawat. Pria itu masih di belakangnya. Dhyva begrgeags menuju ruang kedatangan, dan segera menemui pak bakrie supir Ferry yang menjempuntya.
"Mbak tunggu disini saja.", ucap pak Bakrie.
" Gak apa-apa, Pak, biar bareng aja ke parkirannya.", ucap Dhyva.
Saat Dhyva melangkah, Dhyva melihat pria yang disebelahnya dijemput dengan Mercy mewah dengan nomor polisi 1 (hmmm..dugaaannya benar).
Sedangkan pria bermata lembut itu dijemput sebuah Alphard hitam, fuiii..Alphardnya tertutup tirai...seperti Boss Mafia saja, batin Dhyva.
" Langsung ke DU ya, Mbak?", tanya pak Bakrie. Dhyva menganggukan kepalanya.
Pertemuan tanpa kata perkenalan , hanya sebuah senyum yang tertinggal, dan hanya sebuah intermezzo karena sesaat ia duduk di mobil milik Ferry, dia pun sudah akan melupakan pertemuan unik ini, selayaknya sekilas info bagaikan sebuah news yang tidak penting untuk didengar dan diingat.


No comments: