Saturday, January 16, 2010

Kasih Sepanjang Zaman ( Namaku...Praskusya)

Lembang............

Dhyvana menyetir Fortuner dengan laju di atas aspal hotmix melintas di tol CIPULARANG menuju Bandung. Kendaraan besar di kirinya tak membuat hati Dhyvana gentar, hmmm..baisanya jika Pak Cipto atau Pak Totok yang nyetir atau sang Direktur yang jelek tapi sok galak hatinya bisa kebat-kebit dan selalu menyebutkan halleluyah dalam hati. Jemari dhyvana mencengkeram drive, sementara suara Sarah Brightman alam album "harem" memenuhi kabin mobil.
Kepergian Dhyvana perintah langsung Sang Pemimpin, "amankan Bandung", dan itu merupakan tugas dan tanggung jawabnya. Karena SangPemimpin Besar akan melakukan kunjungan ke Bandung, teror Bom akhir-akhir ini cukup menjadi kewaspadaan bagi keamanan negeri untuk Sang Pemimpin Besar. Perintah Sang Pemimpin merupakan suatu kepercayaan yang harus dipegannya, keberhasilannya di dalam mendapat data-data di lapangan dengan beberapa saran alternatif telah membuahkan hasil yang gemilang, dan itu membuatnya harus terbang keliling Indonesia, meninggalkan Tiga Buah Hati yang dicintainya. Untungnya Sang Pemimpin memahami kondisinya, sehingga hari kerjanya bisa di bolak-balik. " Bayaranmu paling tinggi, Dhy..artinya tanggung jawab dan juga nyawamu menjadi taruhan.", ucap Sang Pemimpin. Dhyvana tidak bisa menolak dengan perintah, karena itu sudah kontrak yang dilakukannya dan tidak keluar begitu saja, karena tujuannya demi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Menyelamatkan negara.
tepat jam 12 siang memasuki tol Pasteur dan membayar 40.500, macet sudah menunggu. Itu pemandangan biasa. Dhyvana harus bertemu dengan seorang yang bernama "Kharisma" dan orang tersebut menunggu di pelataran Biara Karmel Lembang, dan pertemuannya di depan Patung Maria, Ibu Yesus. Artinya ia mengambil jalan ke arah sukajadi lebih dekat menuju Lembang.
tepat seperti dugaannya, jam satu lewat mendekati jam setengah dua Dhyvana tiba di Biara Karmel, beberapa buah mobil terparkir di halaman parkiran. PIntu gerbang Gereja terbuka. Dhyvana turun dan memperhatikan satu persatu mobil disana, ada beberapa plat jakarta dan juga Bandung. Dhyvana keluar dari mobil dan menuju ke arah penjual bunga. Biasanya Dhyvana kesini untuk berdoa, di pemakaman Yesus, Kayu Salib, Bunda maria dan Santa Theresia dari Liseux, masing-masing ia berikan 4 Kumtum Mawar merah dan putih, angka empat dalam agama katolik merupakan lambang keselamatan. Dan bunga mawar pink untuk santa Theresia Liseux yang terkenal dengan Puri Kebatinannya, warna pink merupakan lambang kelahiran baru.
Suasana lingkungan ziarah sangat hening, Dhyvana selalu merasa nyaman disana dan ia selalu tidak ingin pulang jika berada disana. Perlahan-lahan ia menjalankan ziarahnya, hening dan benar-benar mendenkatkan diri dengan sap Putera. Pada saat mendekati Gua Maria, Dhyvana melihat seorang Pria berusia Empat Puluh, terlihat penuh Kharisma dan seolah-olah khusyuk untuk berdoa, dari ciri-cirinya, Dhyvana sudah memahami, bahwa pria itu yang harus ditemuinya.
Dhyvana mengambil duduk di sebelah pria itu. ia khusuk berdoa dengan Sang Bunda. Setelah selesai, Dhyvana tetap memejamkan matanya, nalurinya berjalan. " Namaku Praskusya", ujarnya kepada laki-laki itu. "AKu Kharisma", ucap pria itu. Kode yang diberikan ternyata cocok. Pria itu memberikan sejumlah informasi yang sangat mengejutkan. Dhyvana tidak mau membuka matanya, " Sang Tamak" dalang dari semua teror, dan Ia berlagak bagaikan seorang pahlawan. data ini komplit dan tidak direkayasa. Direkam dan diambil tanpa sepengetahuan Sang Tamak, karena kita ada org dalam di rumah Sang Tamak maupun di tempat kerjanya, bahkan di mobil Sang Tamak kita pasang semua alat, karena "body guard" Sang Tamak dan drivernya adalah "orang kita", anak-anak bekerja dengan bagus.
"terima kasih Kharisma.", ujar Dhyvana. "Selamat Bekerja, hati-hati. Salam Negara Untukmu.". Dhyvana berdiri dan membuka matanya. Segera membelakangi Kharisma dan pergi meninggalkan pria itu yang seolah-olah amsih berdoa khusuk kepada Sang Bunda.
Dhyvana langsung menuju Jakarta, biasanya kalau ada tugas seperti ini ia tidak akan berlama-lama, "layaknya seterikaan baju". Dhyvana membuka Vaio " kecilnya dan mengklik sistem untuk memasukan data, biasanya processing data memakan waktu 45 menit, artinya tiba di pintu gerbang tol processing entry data masuk dan system bekerja, dan bisa mapping, dengan segera. Data tidak akan melalui jalur resmi, namun dilakukan dengan system yang sudah dirangcang dan aman.
Dhyvana tersenyum, namaku "Dhyvana Praskusya", tiada seorangpun yang tahu nama aslinya di dalam kesatuan. Hanya Sang pemimpin, Sang Direktur , bahkasan Sang Pemimpin Besar lupa nama aslinya.
Dhyvana memacu mobilnya menuju Jakarta, Bandung tidak macet untuknya. Ia melaju dengan kecepatan 80 km/jam, memasuki km 100 mendadak mobil mulai sedikit aneh, Dhyvana meminggirkan mobilnya tepat di km 100. Ia menepi dan turun untuk memeriksa kendaraannya. Hari masih menunjukkan jam tiga siang. Bau harum bunga mawar menerpanya, Dhyvana merinding, tapi Dhyvana tidak berani menduga yang aneh, ia membuka kap mobil, dan mengecek mobil, tidak ada yang kurang, aneh...sabtu minggu lalu, mobil sudah di servis. Dhyvana merasa merinding, ia merasa ada yang mendekatinya, tapi akh...hanya naluri. Dhyvana tidak ingin perduli dengan hal-hal aneh dan takhayul. Saat ia memasuki mobil, Dhyvana terperangah di depan mobilnya ada seekor harimau putih, astaga naga! Dariama harimau itu datang, dengan lega hati Dhyvana menepuk dadanya untung ia sudah masuk ke mobil. Harimau itu terlihat ramah. Kok ada harimau di tol Purbaleunyi, bau harum mawar dan cendana memeuhi kabin mobil, ikh ..apa karena pengaruh bunga mawar tadi di Lembang. Seraya menggu sang raja hutan berlalu, Dhyvana mensetting preogram datanya, hm...sesampainya di km 62, tepat di tempat peristirahatan data bisa dianalisa, sesampainya di Jakarta sudah dapat diakses Sang Pemimpin dan Pemimpin Besar, dan jika malam maupun dini hari diminta diskusi atau saran analisa, Dhyvana sudah siap.
Saat Dhyvana mengangkat wajahnya, Harimau Putih itu menghilang, kemana ya?. Dhyvana segera meletakkan laptop nya dan kembali menyetir dengan kecepatan 60km/jam. Bau mawar dan cendana sudah hilang. Dhyvana mengerutkan keningnya.
****
Pekerjaan Dhyvana sudah lengkap dan ia sudah mengirimkan kepada Sang Pemimpin dan sudah diinfo melalui BBM : " Bos...BPSnya Complete"..itu kata sandi yang diberikannya. Sehingga apabila BBM disadappun tidak ada yang mengeerti.
Alarm BBM berbunyi , " TX, Praskusya. KB sukses."
Lega..., Dhyvana menuju ke Park Royal, ia memilih untuk istirahat disana karena lebih dekat untuk akses ke Sang Pemimpin. Dhyvana menlepon ke apartemen meminta Bi Danti untuk membuatkannya soup tomat, segar dan sekalian diet karena sudah mulai naik berat badan. Disertasi membuatnya sedikit perlu asupan makanan, karena harus memeras otak dan menghadapi dosen yang gila jabatan dan sok jaim.
Akhirnya...tiba juga di rumah. Bi Danti sangat senang dengan kehadiran Dhyvana. "Neng Didi sudah lama enggak kesini, sejak sudah di Cibubur", ucapnya. Dhyvana mengedipkanmatanya. "Kan ada bos baru disini , Mbok. Jadi gak enak hati.", ucap Dhyvana seraya meletakan travel bagnya. Bi Danti tertawa, aduh neng..!beda banget neng dengan Bos baru, Bos barunya.....galak dan gak pernah tertawa maupun tersenyum, manyun melulu.", bisik Bi Danti. Dhyvana tergelak. "Bapak Pemimpin sering kesini , Mbok?", tanya Dhyvana. " Sudah jarang , neng. Kata bapak enggak enak, Neng Didinya gak ada, kalau ada neng DIdi kan Bapak bisa diskusi dan ngobrol." ujar Bi Danti. " Trus yang sering kesini siapa, Mbok?" tanya Dhyvana. " Tuan Asisten", ujar Bik Danti. Dhyvana tersenyu. " Ibu Menteri?", Bi danti menggeleng, Ibu menteri juga agak jarang apalgi sekarang sibuk dipanggil sama DPR." Dhyvana tertawa, ia mengikuti berita teman-temanya. Kasian..satu persatu mau dihabisin. Sang tamak memamng luar biasa, namun keadilan pasti ada masanya datang.
Dhyvana membuka metro TV, ia berbaring di Sofa. Berita tentang pembunuhan Nasruddin..., hmmm berita yang membosankan. Dhyvana mencum aroma mawar dan cendana, mendadak jantungnya berdebar, badannya lemas tidak bertenaga, energinya terkuras, bagian perutnya ada hawa dingin yang merayap, aroma itu semakin dekat semakin dekat, angin dingin berdesir...."Lintang...Sang Puteri", suara itu menggaung, memenuhi kedua telinganya. "Lintang..Sang Puteri, akulah yang engkau cari Sang Puteri, Engkaulah Yang aku nantikan di sepanjang hidupmu, ribuan tahun kita berevolusi dan bermetamorfosis dari waktu ke waktu, Akulah Sang Penjaga Hatimu Sang Puteri. Kita menembusi 5 zaman bumi berputar dalam jutaan bahkan milyaran tahun dan cahaya."
" Dhyvana membelalakan matanya, ia memandang ngeri dari dinding keluar seekor hariamu putih dan seorang pria bertubuh atletis dan bercahaya, wajahnya tidak terlihat. "Siapakah engkau?" bisik Dhyvana bergidik, ia menjadi sangat takut, takut sekali.
"Akulah yang kamu cari selama ini Sang Puteri, akulah yang selalu tidur bersamamu disetiap malammu, lihatlah betapa dinginnya hatimu terhadap setiap laki-laki disekitarmu, bahkan dengan Alex..., hatimu tidak pernah ada."
"Salah..salah.., dia suamiku !" bentak Dhyvana. "Tapi engkau tidak pernah mencintainya Lintang. Engkau menikahinya karena rasa patuhmu terhadap agama dan orangtuamu, orangtua yang hidup untuk jaman kelima ini, karena engkau bukan dari dunia Lintang..., engkau berasal dari atas.", ujar pria itu. " Kau Bohong!", ucap Dhyvana , kakinya dingin, badannya tidak bisa bangun, ia kaku dan sangat lemas dan tidak berdaya. "Rasankan tanganku, Lintang, rasakan sentuhanku, rasakan sentuhan bibirku.", ucapnya. "Jangannnnnn...!, Tidak.....!, itu dosa!' teriak Dhyvana. pria itu terlihat bercahaya dan terlihats enyumnya. Dhyvana merasakan jari jari itu menyentuh tubuhnya dan Dhyvana ternganga, sentuhan itu..ia sangat mengenal sentuhan itu, jantung Dhyvana berdegup kencang, dan hembusan nafas yang ada di atas wajahnya, harum mawar dan cendana, Dhyvana bergidik ketakutan, bii r itu hangat dan terasa dingin....Hiyyy..pria ini hantu, Dhyvana beteriak untuk memanggil nama Yesus, biirnya kelu. Ia sekuat tenaga untuk memanggil Yesus. "Lintang, akulah kekasihmu sepanjang masa. Tidak ada yang boleh memiliki badanmu, kecuali aku. Tidakkah kau lihat tanda-tandanya, bagaimana suami duniamu tidak mau tidur denganmu dengan alasan wajahmu selalu berubah menjadi lain di tiap tidurmu, dengan alasan ada ular emas di atas kepalamu, sehingga untuk menidurimu dia tidak pernah, bahkan dengan kesepakatan kalian menipu orang tuamu seakan-akan kalian telah tidur bersama."
Dhyvana tersentak, pria itu tau persis dengan kehidupannya, " Semua aku lakukan karena aku tidak mau kau dimiliki siapapun, karena engkau adlah takdirku." ujarnya.
"Kau jahat, kau menyiksaku dan menyiksa Alex."
Pria itu tergelak, " Lintang...Lintang...laki-laki itu tidak layak untukmu!, Dia meniduri tantemu, sebelum pernikahanmu, sehingga rohkupun tak layak untuk memasukinya agar kita bersatu, dia meniduri keponakannmu yangtelah kau angkat anak. Dia bajingan yang tidak layak untukmu."
"tapi dia suamiku, jika memang kau takdirku kenapa engkau tidak menyatukan dirimu?", tanay Dhyvana.
Pria itu tersenyum, " Ada saatnya aku akan datang menjadi laki-laki sesungguhnya", dan engkau akan mencium aromaku padanya. Dia tidak mesti seorang laki-laki kaya atau tampan seperti impianmu, aku bisa menjelma menjadi siapapun yang aku inginkan.", ujarnya
Dhyvana bergidik, "Lepaskan aku..!", aku ingin hidup normal." ucap Dhyvana.
Pria itu begitu dekat....rasakan kasihku Lintang, dan janganlah takut...aku selalu di dekatmu. ENgkau akan mersakan kehadiranku, malam-malam aku disampingmu, meskipun secara fisik tempat tidurmu kosong dan dingin, namun aku ada di sebelahmu."
Dhyvana bergidik, mengerikan...ini mimpi kosong, khayalan yang tidak masuk akal, aku seorang katolik, aku bisa mengusirnya, Yesu penolongku.
Pria itu tersenyum, " Lintang...marilah...akan aku tunjukkan kepadamu!" ujarnya. Dhyvana tertegun. "Duduklah di atas harimau ini, dia tidak akan menggigitmu ataumemangsamu, karena dia tau sang ratu nya."
Dhyvana duduk di punggung harimau, seketika mereka keluar menembus diding apartemen, dyyvana melihat dirinya tertidur di atas sofa dan Bi Danti duduk di sebelahnya, menunggunya tidur.
" Dinginnya nagin malam terasa di kulit Dhyvana, mereka melintasi gedung-gedung tinggi, ke arah Barat Jakarta. Banten.....ada apa dengan Banten?, Pria itu tersenyum, inilah wilayah yang kit apunya dulu dalam ribuan tahun yang lalu pada zaman kelima bumi berputar dalam matahari. Kita menguasai seluruh daratan, karena kita ditugaskan untuk membantu manusia, namun manusia tamak dan tidak tahu diri, saling berperang dan membunuh, akhirnya aku harus di hukum untuk ribuan tahun mengembara di dunia ini, dan engkau dirampas dariku, ditempatka nun jauh , Lintang..terhempas dalam ribuan bintang dan gelombang magnet bumi. Betapa kejamnya hukuman ini untuk kita. KIta dianggap agala untuk membuat manusia saling mencintai."
Dhyvana bergidik, laki-laki itu membawanya mengembara dalam ribuan bintang, " Lintang disinilah tempat tanah kelahiran kita." ujarnya menujukkan sebuah bintang yang begitu besar. Disanalah tempat kita."
Dhyvana mengeluh, dia tidak percaya omong kosong ini. Khayal dan mimpi.
Laki-laki itu seakan dapat membaca isi hatinya, "Suatu hari engkau akan percaya , Lintang. Namamu bukan Dhyvana, namamu ...., Namaku Prakusya..." bisik Dhyvana. Pria itu tersenyum..."jika kau senang nama itu pakailah nama itu sang Puteri.
Dhyvana masih merasa ngeri, terlihat cahaya di ufuk timur. Sudah waktunya aku kembali, dan kau kemabli d apartemen" ujar laki-laki itu.
Dengan cepat hariamu putih itu membawanya melintasi bukit-bukit, gedung-gedung tinggi dan samapai di park Royal. " Selamat Tidur, Kekasihku. " bibir pria itu terasa dingin di kening, pipi dan bibirnya. harum mawar dan cendana masih tercium.....
Lelaplah dalam senyummu yang cantik, Lintang....dan Dhyvana merasa sangat mengantuk. Bibirnya berguman, namaku Prakusya.....

No comments: